Ospek, Antara Kebutuhan dan Kecaman Masyarakat

ORGANISASI kemahasiswaan merupakan organisasi mengalir yang pergantian antar anggota dan fungsionaris berjalan seiring dengan waktu akademis. Keterbatasan waktu studi membuat orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak dapat beraktivitas untuk selamanya, berbeda dengan organisasi politik atau masyarakat.

Landasan bergerak dari sebuah organisasi mahasiswa adalah kepentingan mahasiswa dan berkoridor nilai-nilai kemahasiswaan. Nilai-nilai intelektualitas, integrasi, kebangsaan, independensi pengabdian masyarakat dan nilai perjuangan lainnya merupakan nilai yang telah diyakini sejak dulu dan beradaptasi dengan tuntutan zaman.

Kebutuhan utama dari sebuah organisasi mahasiswa adalah regenerasi anggota sebagai jaminan keberlangsungan organisasi tersebut. Perekrutan dan pengaderan merupakan agenda utama untuk mengisi ruang-ruang aktivitas yang ada di organisasi tersebut. Proses tersebut menuntut dicetaknya kader-kader yang akan meneruskan tongkat estafet perjuangan dari organisasi kemahasiswaan

Selain sebagai sebuah media perekrutan, kaderisasi merupakan alat transfer nilai-nilai yang telah menjadi koridor perjuangan kepada generasi selanjutnya. Proses ini adalah sebuah jaminan keberlangsungan nilai-nilai luhur dari kemahasiswaan. Proses kaderisasi di dunia kemahasiswaan yang paling banyak mendapat sorotan adalah ospek, sebuah proses kaderisasi dan penerimaan awal mahasiswa ke dalam dunia kemahasiswaan. Kecaman terhadap proses ini adalah sebuah proses yang barbar dan tidak mengindahkan HAM, sebagai sebuah bentuk paranoia dari pengalaman buruk ospek di masa lalu.

Di bawah cacian

Penerimaan mahasiswa baru atau lebih dikenal dengan orientasi studi pengenalan kampus (ospek), disadari atau tidak merupakan sebuah interaksi awal seorang siswa baru terhadap dunia kampus. Kesan pertama didapat dari acara yang dilangsungkan oleh para senior akan mewarnai dunia kemahasiswaan yang bakal dijalani oleh para mahasiswa.

Beberapa insinden di masa lalu yang berkaitan dengan ospek melahirkan preseden negatif terhadap kegiatan yang berbau ospek. Berbagai predikat diberikan kepada kegiatan ospek, dari perpeloncoan, ajang balas dendam, pembantaian, acara non-HAM, sampai pembunuhan sistemik.

Sampai pada akhirnya dirasa perlu oleh Dirjen Dikti untuk mengeluarkan surat keputusan (SK) yang melarang keberadaan ospek di kampus dalam bentuk apa pun. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pengamanan terhadap kejadian di masa lampau.

Sejak saat itu ospek diposisikan sebagai sebuah kegiatan terlarang dan subversif. Menyelenggarakan ospek di kampus disamakan dengan tindakan mengkudeta kepala negara. Seluruh jajaran petinggi universitas di seluruh Indonesia melakukan segala cara untuk memberangus kegiatan ospek, sehingga melahirkan friksi antara rektorat dengan mahasiswa.

Masyarakat luas memandang ospek tidak lebih dari sekadar ajang balas dendam dan ajang menyalurkan adrenalin berlebih dari para senior kepada junior barunya. Stereotipe negatif terus dilancarkan kepada kegiatan ospek bersamaan dengan mahasiswa yang tetap meneruskan kegiatan tersebut. Ospek tetap dipandang sebagai sebuah kebutuhan bagi mahasiswa, sedangkan bagi masyarakat luas ospek adalah tindakan brutal. Benarkah?

Harus dihentikan?

Tidak dapat dimungkiri kasus-kasus yang terjadi pada kegiatan ospek yang menimbulkan korban merupakan sebuah realita yang telah terjadi. Hal itu melahirkan luka kepada semua pihak bahkan bagi mahasiswa. Kasus tersebut merupakan penyimpangan yang terjadi di lapangan yang memakan korban dan menjadi senjata ampuh untuk menghentikan ospek di seluruh nusantara.

Apakah itu alasan yang cukup untuk menghentikan proses ospek di dunia kemahasiswaan? Apakah itu sebuah alasan yang cukup kuat untuk mengeneralisasi seluruh kegiatan ospek dari Sabang sampai Merauke?

Memang tidak dapat dimungkiri, terdapat beberapa ospek yang keluar dari khitahnya sebagai proses pengaderan menjadi proses penyiksaan. Tetapi, tidak dapat ditutupi pula bahwas di dunia kemahasiswaan telah terjadi pula sebuah revolusi di bidang pengaderan yang menekankan kepada pencapaian nilai.

Tantangan yang perlu dilakukan oleh organisasi kemahasiswaan adalah bagaimana mengembalikan ospek sebagai sebuah kegiatan penanaman nilai tanpa motif penyiksaan. Karena ospek merupakan alat paling efektif dalam meneruskan proses regenerasi organisasi kemahasiswaan dan penanaman nilai-nilai dan ideologi kemahasiswaan kepada mahasiswa baru.

Untuk menujang hal tersebut hal yang dilakukan adalah; pertama, terus melakukan proses kaderisasi dan ospek. Kedua, mengembalikan ospek sebagai alat penanaman nilai dan pembalasan dendam.

Ketiga, mengevaluasi metode yang dilakukan. Keempat, membuka keran informasi dengan pihak luar sehingga tidak terjadi kesalahpahaman dan ketidakmengertian terhadap proses ospek yang berjalan.

Proses ospek adalah proses kaderisasi yang dibutuhkan untuk organisasi kemahasiswaan, sehingga keberadaannya harus tetap dipertahankan dengan tingkat fleksibilitas terhadap perubahan zaman dan tidak terpasung oleh tradisi semu yang memakan korban.

Proses represivitas terhadap ospek harus dijawab dengan sebuah transformasi proses kaderisasi yang tidak memakan korban. Transformasi tersebut menuntut sebuah kreativitas dalam menjawab perubahan paradigma masyarakat

About these ads

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s