*Makna Halal Bihalal*
 oleh Prof. Dr. Quraish Shihab, dari buku Lentera
 Hati
**************************************************** 
 *Halal bihalal,* dua kata berangkai yang sering
 diucapkan dalam suasana Idul
 Fitri, adalah satu dari istilah-istilah "keagamaan"
 yang hanya dikenal oleh
 masyarakat Indonesia. Istilah tersebut seringkali
 menimbulkan tanda tanya
 tentang maknanya, bahkan kebenaranya dalam segi
 bahasa, walaupun semua pihak
 menyadari tujuannya adalah menciptakan keharmonisan
 antara sesama.
 
 Hemat saya paling tidak ada dua makna yang dapat
 dikemukakan menyangkut
 pengertian istilah tersebut, yang ditinjau dari dua
 pandangan. Yaitu,
 pertama, bertitik tolak dari pandangan hukum Islam
 dan kedua berpijak pada
 arti kebahasaan.
Menurut pandangan pertama – dari segi hukum – kata
 *halal* biasanya
 dihadapkan dengan kata *haram*. *Haram* adalah
 sesuatu yang terlarang
 sehingga pelanggarannya berakibat dosa dan
 mengundang siksa, demikian kata
 para pakar hukum. Sementara *halal* adalah sesuatu
 yang diperbolehkan dan
 tidak mengundang dosa. Jika demikian *halal*
 *bihalal* adalah menjadikan
 sikap kita terhadap pihak lain yang tadinya haram
 dan berakibat dosa,
 menjadi halal dengan jalan mohon maaf.
 
 Pengertian seperti yang dikemukakan di atas pada
 hakikatnya belum menunjang
 tujuan keharmonisan hubungan, karena dalam bagian
 *halal* terdapat sesuatu
 yang *makruh* atau yang tidak disenangi dan
 sebaiknya tidak dikerjakan.
 Pemutusan hubungan (suami-istri, misalnya) merupakan
 sesuatu yang halal tapi
 paling dibenci Tuhan. Atas dasar itu, ada baiknya
 makna *halal*
 *bihalal*tidak dikaitkan dengan pengertian hukum.
 
 Menurut pandangan kedua – dari segi bahasa – akar
 kata *halal* yang kemudian
 membentuk berbagai bentukan kata, mempunyai arti
 yang beraneka ragam, sesuai
 dengan bentuk dan rangkaian kata berikutnya.
 Makna-makna yang diciptakan
 oleh bentukan-bentukan tersebut, antara lain,
 berarti "menyelesaikan
 problem", "meluruskan benang kusut", "melepaskan
 ikatan", dan "mencairkan
 yang beku".
 
 Jika demikian, ber-*halal* *bihalal* merupakan suatu
 bentuk aktifitas yang
 mengantarkan para pelakunya untuk meluruskan benang
 kusut, menghangatkan
 hubungan yang tadinya membeku sehingga cair kembali,
 melepaskan ikata yang
 membelenggi, serta menyelesaikan kesulitan dan
 problem yang menghalang
 terjalinnya keharmonisan hubungan. Boleh jadi
 hubungan yang dingin, keruh,
 dan kusut tidak ditimbulkan oleh sifat yang haram.
 Ia menjadi begitu karena
 Anda lama tidak berkunjung kepada seseorang, atau
 ada sikap adil yang Anda
 ambil namun menyakitkan orang lain, atau timbul
 keretakan hubungandari
 kesalahpahaman akibat ucapan dan lirikan mata yang
 tidak disengaja.
 Kesemuanya ini, tidak haram menurut pandangan hukum,
 namun perlu
 diselesaikan secara baik; yang berku dihangantkan,
 yang kusut diluruskan,
 dan yang mengikat dilepaskan.
 
 Itulah makna serta substansi *halal* *bihalal*, atau
 jika istilah tersebut
 enggan Anda gunakan, katakanlah bahwa itu merupakan
 hakikat Idul Fitri,
 sehungga semakin banyak dan seringnya Anda
 mengulurkan tangan dan
 melapangkan dada, dan semakin parah luka hati yang
 Anda obati dengan
 memaafkan, maka semakin dalam pula penghayatan dan
 pengamalan Anda terhadap
 hakikat *halal* *bihalal*. Bentuknya memang khas
 Indonesia, namun hakikatnya
 adalah hakikat ajaran Islam.[]
 
 Wassalamualaikum wr.wb,
About these ads