Facebook, siapa yang tak kenal? Sebuah situs pertemanan nomer wahid saat ini.

Di berita televisi pagi ini, saya melihat tayangan yang memberitakan bahwa di Indonesia, situs Facebook menduduki peringkat ke dua, kalah satu posisi saja dengan Google. Sedangkan di dunia, situs ini menduduki peringkat ke lima atau keenam (saya lupa), ‘mendepak’ situs pertemanan lain yang lebih dulu ada, Friendster, jauh ke posisi 44.

Nah, saat ini, sedang heboh perkara sebagian ulama di Jawa Timur, berencana untuk mengharamkan situs ini. Sontak ini menimbulkan perdebatan, antara yang pro dan yang kontra.

Namun, sebelum membicarakan lebih lanjut masalah fatwa ulama itu, ada baiknya saya segarkan anda dengan berita Facebook di awal tahun 2009 ini, ketika bangsa Yahudi -la’natullah alaihim- membantai saudara-saudara kita di Palestina.

Kala itu Facebook disinyalir memberikan sokongan kepada bangsa Yahudi dalam bentuk dana yang dipergunakan untuk perang, membunuhi kaum muslimin.

Masih ingat?

Hal itu kemudian mendorong sebagian untuk mendukung boikot Facebook dan ada pula yang menolaknya, sama halnya dengan kondisi saat ini.

Back to our topics, tentang halal dan haramnya Facebook.

Sebelumnya saya ingatkan bahwa saya tidak dalam kapasitas untuk mengatakan halal dan haramnya sesuatu, sama sekali tidak. Yang saya postingkan disini, hanyalah keterangan-keterangan, yang mudah-mudahan bisa diambil manfaatnya, jika keliru, maka asalnya dari kebodohan saya, untuk itu tidak perlu diikuti.

Apa yang hendak saya sampaikan sebagai tambahan keterangan atas rencana pengharaman Facebook, sebenarnya ‘hanyalah’ sebuah status saudara saya dalam iman, mas Muhammad Abduh Tuasikal di akun Facebooknya.

Beliau menulis dibawah ini;

“hukum Facebook sesuai dengan kaedah dalam ushul fiqh: Al wasa-il laha hukmul maqoshil (hukum sarana sama dengan hukum tujuan).”

Nah, ini yang saya maksudkan sebagai keterangan yang saya ambil itu. Hukum Facebook itu tergantung dari tujuannya.

Jika tujuannya untuk hal-hal yang negatif, sebagaimana disinyalir sebagian ulama Jawa Timur, misalnya untuk tujuan perselingkuhan, kemudian pornografi dan lain-lain, maka tentu saja tidak diperbolehkan.

Akan tetapi, jika kemudian Facebook itu dijadikan sebagai wasilah/alat dakwah, misalnya memberikan status-status nasihat yang diambil dari ayat Al Qur’an atau hadits Nabi, atau memberitahukan adanya kajian-kajian ilmu, maka tentu saja ini positif.

Namun ada pula yang sekedar mengganti statusnya untuk sesuatu yang ‘biasa-biasa’ saja, misalnya sedang meeting atau yang lainnya, maka ini hukumnya jaiz alias boleh-boleh saja.

Saya kemudian jadi teringat, sebuah hadits yang terkenal tentang niat yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab dari hadits Bukhari dan Muslim, yang sudah kita hafal bersama: innama a’malu binniyyat…(sesungguhnya amal itu tergantung niatnya)

Lihatlah kelanjutan dari hadits tersebut! bahwa hijrahnya kaum muslimin dari tanah Mekkah ke Madinah, dibagi menjadi beberapa bagian.

Ada yang mendapatkan pahala atas hijrahnya tersebut;

…barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya.

Namun, ada pula yang mendapatkan dunia saja (dhi dunia/wanita);

…Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya.

Artinya, untuk yang terakhir ini, mereka tidak akan mendapatkan pahala dari Allah meskipun secara fisik turut menyertai Nabi hijrah ke Madinah, padahal hijrah itu adalah perkara yang besar.

Demikianlah, kemudian bahwa sarana itu dihukumi sesuai tujuannya. Jika tujuannya adalah mencari ridha Allah, maka insya Allah, ridha Allah yang didapatnya, sedangkan jika tujuannya melenceng dan bahkan negatif, ia akan mendapatkan sesuai dengan apa yang menjadi tujuannya itu.

Wal ilmu indallah, wallahu ta’ala a’lam.