fay-gondrongHilmar Farid adalah sejarawan, aktivis, dan pengajar. Ia senang memasak,  berenang dan bermusik untuk mengisi waktu senggang.

Ia dilahirkan di Bonn, Jerman Barat pada 8 Maret 1968.  Sebagain besar masa remajanya dihabiskan untuk dunia otomotif (motor), bermain basket, bermusik dan membantu ayahnya, Agus Setiadi, menerjemahkan buku cerita anak karya Enid Blyton dan Astrid Lingdren. Dengan skripsi berjudul Politik, Bacaan dan Bahasa Pada Masa Pergerakan: Sebuah Studi Awal, ia menyelesaikan kuliah S1 di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 1993. Setelah itu, ia mengajar di Institut Kesenian Jakarta dari 1995-1999. Bersama beberapa orang seniman, peneliti, aktivis, dan pekerja budaya di Jakarta, ia mendirikan Jaringan Kerja Budaya pada 1994 dan menerbitkan bacaan cetak berkala Media Kerja Budaya. Pada 2002 ia mendirikan dan memimpin Institut Sejarah Sosial Indonesia hingga 2007 dan saat ini bertindak sebagai ketua dewan pembina organisasi nirlaba tersebut sambil menjadi ketua Perkumpulan Praxis sejak 2012.

Sebagai sejarawan dan pengkaji kebudayaan, ia aktif di Asian Regional Exchange for New Alternatives (ARENA) dan di Inter- Asia Cultural Studies Society sebagai editor. Tulisannya tentang sejarah, seni, kebudayaan, film, politik, buruh, dst. tersebar di berbagai terbitan jurnal, majalah, koran dan buku. Pada Maret 2012, ia dan bersama rekan-rekannya membentuk Relawan Penggerak Jakarta Baru (RPJB) yang bertujuan mensosialisasikan Pilkada Jakarta 2012 tanpa keterlibatan uang, dan mendukung serta mengkampanyekan figur yang layak dipilih dalam pilkada tersebut. Pada 2012, bukunya berjudul Kisah Tiga Patung  diterbitkan oleh Indonesia Berdikari. Ia meraih gelar doktor di bidang kajian budaya di National University of Singapore pada Mei 2014 dengan disertasi berjudul Rewriting the Nation: Pramoedya and the Politics of Decolonization yang akan segera terbit dalam bentuk buku. Sejak akhir 1990an, sejumlah institusi pendidikan tinggi di luar Indonesia telah mengundangnya menjadi pembicara, antara lain: National Tsing Hua University (Hsinchu, Taiwan), Shanghai University, China Academy of Art (Hangzhou), Sungkonghoe University (Seoul), University of the Philppines, Ateneo de Manila University, Australian National University, Leiden University, University of Amsterdam, Centre for the Study of Culture and Society (Bangalore), University California Los Angeles dan University California Berkeley.

Pada Maret 2014, bersama sejumlah pakar, ia merumuskan dan bertindak sebagai ketua panitia simposium nasional bertajuk “Jalan Kemandirian Bangsa” yang bertujuan merumuskan semacam “GBHN” bagi pemerintahan Joko Widodo yang saat itu baru saja diumumkan akan maju dalam Pilpres 2014.

Pada 31 Desember 2015, ia dilantik menjadi Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Republik Indonesia.